Pos

Inovasi Pemanfaatan UAV Dalam Pengawasan Tata Ruang

Oleh: Arszandi Pratama, S.T., M.Sc., Tike Aprillia S.T, Akhmad Abrar A.H. S.T., Dandy Muhamad Fadilah, S.T., dan Warid Zul Ilmi, S.P.W.K.

Inovasi dalam pengawasan tata ruang menjadi sebuah keharusan di era digital. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan data pemanfaatan ruang secara cepat dengan akurasi yang tinggi. Kombinasi antara teknologi LiDAR dan fotogrametri dengan analisis spasial di dalam big data analysis dapat memantau pelanggaran tata ruang. Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai inovasi Pengawasan Tata Ruang dan teknologi apa yang dapat membantu ?  Yuk kita simak bersama.

Mengenal Pengawasan Tata Ruang Dalam Undang-Undang Tata Ruang 

Menurut Undang-undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, bahwa pengawasan Tata Ruang menjadi satu kesatuan dalam upaya mewujudkan penataan ruang yang baik. Melalui pengawasan penataan ruang, penyelenggaraan penataan ruang dapat diwujudkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan baik peraturan penataan ruang maupun peraturan yang terkait lainnya. Adapun wewenang dalam melakukan pengawasan tata ruang sendiri dilakukan oleh pemerintah yang juga melibatkan peran masyarakat. Dalam pengawasan tata ruang dilakukan terhadap kinerja fungsi penyelenggaraan penataan ruang dan kinerja pemenuhan standar pelayanan minimal bidang penataan ruang pada wilayah administratif yang biasanya diakomodasi dalam Dokumen Rencana Tata Ruang.

Pentingnya RDTR Dalam Pengawasan Tata Ruang

Dalam proses pengawasan tata ruang, penyusunan rencana tata ruang khususnya rencana rinci tata ruang atau yang biasa dikenal Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) menjadi sangat penting untuk segera dilakukan. Penyusunan RDTR dapat membantu pemerintah melakukan berbagai hal diantaranya adalah Pertama, penyusunan RDTR akan berfungsi sebagai kendali mutu pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota yaitu mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang acuan tersebut dipergunakan dalam memutuskan kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari RTRW. Kedua, menjadi acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang. Ketiga, menjadi acuan bagi penertiban izin pemanfaatan ruang dan terakhir sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Tata Bangun Lingkungan. 

Adapun RDTR sendiri dilengkapi dengan Pengaturan Zonasi yang mengatur zona dan kegiatan didalamnya dengan sangat detail. Hal tersebut sangat bermanfaat dalam upaya Pengawasan tata ruang yang mana juga menjadi dasar dari pemberian izin pemanfaatan dan pengendalian ruang itu sendiri. Prinsip dari penyediaan RDTR yang didorong dalam bentuk digital dan mudah diakses oleh masyarakat pun menjadi bagian yang sangat penting dalam pengawasan tata ruang yang lebih efektif, seperti sistem perizinan berusaha secara elektronik yang dapat diakses semua orang. 

Namun pada pelaksanaannya dalam pengawasan tata ruang dibutuhkan teknologi  yang dapat membantu secara efektif dan efisien dalam menilai kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang yang telah di susun, beberapa teknologi seperti Unmaed Aerial Vechicle (UAV) dalam melakukan pemetaan yang bertujuan untuk melakukan monitoring dan evaluasi sebagai upaya dari pengawasan tata ruang dengan lebih cepat.  

Pemanfaatan Teknologi UAV Dalam Pengawasan Tata Ruang

Teknologi Unmaned Aerial Vehicle (UAV) adalah sebuah pesawat tanpa awak. UAV harus dikendalikan dari jarak jauh menggunakan remote control dari luar kendaraan atau biasa disebut Remotely Piloted Vehicle (RPV). Selain itu, UAV juga dapat bergerak secara otomatis berdasarkan program yang sudah ditanamkan pada sistem komputernya. UAV dapat dikombinasikan dengan kamera sesuai dengan kebutuhan survey. Data yang didapatkan dari kamera tersebut yang akan diproses menjadi peta foto yang digunakan sebagai acuan pengawasan tata ruang. Berikut beberapa inovasi pemanfaatan teknologi UAV dalam pengawasan tata ruang:

  1. Pemanfaatan Fotogrametri

Fotogrametri berasal dari kata Yunani dari kata “photos” yang berarti sinar “gramma” yang berarti sesuatu yang tergambar atau ditulis, dan “metron” yang berarti mengukur. Oleh karena itu konsep dari fotogrametri sendiri adalah pengukuran secara grafik dengan menggunakan sinar ( Hadi, 2007). Fotogrametri dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pemetan yang memerlukan ketelitian tinggi. (Suyudi, 2014). Output dari fotogrametri ini adalah peta foto.

Close Range Photogrammetry (CRP) merupakan metode dalam pengambilan data ukuran dari citra foto yang akan dibuat model 3D dari sebuah objek atau untuk kebutuhan pemetaan menggunakan kamera SLR non-metrik. Metode CRP ini akan menghasilkan output peta dengan tingkat detail yang tinggi  Baca juga artikel ini (Close Range Photogrammetry).

Dalam proses pengawasan tata ruang, diperlukan peta skala besar dengan tingkat detail dan akurasi yang tinggi untuk mengetahui kondisi terkini pemanfaatan ruang di suatu wilayah. Dengan penggunaan metode fotogrametri ini, kita akan mengetahui luasan kavling bangunan dengan akurat.

Selanjutnya peta foto tersebut akan di overlay dengan peta rencana zonasi dalam RDTR. Hal ini dilakukan untuk mengetahui gap antara rencana dengan kondisi aktual pemanfaatan ruang. Dari hasil analisis tersebut, pemerintah dapat mengetahui luasan pelanggaran bangunan yang tidak sesuai dengan peta zonasi dan dapat mengambil kebijakan disinsentifnya.

Sumber: PT KHS

  1. Pemanfaatan LiDAR

Teknologi LiDAR mampu memberikan informasi pencitraan tiga dimensi untuk membuat peta digital dengan skala besar. Baca juga artikel ini (Peta Skala Besar). Jika dibandingkan dengan peta daring saat ini yang dimiliki pemerintah, hasil dari LiDAR memiliki tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi. LiDAR adalah teknologi yang menerapkan sistem penginderaan jauh sensor aktif untuk menentukan jarak dengan menembakkan sinar laser yang dipasang pada wahana pesawat. Jarak didapatkan dengan menghitung waktu antara ditembakkannya sinar laser dari sensor sampai diterima kembali oleh sensor. Baca juga artikel ini (LiDAR)

Dasar pengembangan inovasi pemanfaatan LiDAR untuk pengawasan tata ruang adalah agar setiap daerah memiliki peta pemanfaatan ruang yang detail dan akurat. Dengan data LiDAR kita akan mendapatkan berbagai informasi terkait pemanfaatan tata ruang. 

Integrasi data dengan peta hasil akuisisi LiDAR, menghasilkan sebuah mekanisme yang dapat digunakan untuk mengawasi pertumbuhan kota, estimasi area terbangun, perhitungan pajak, peningkatan pendapatan pemerintah lokal, dan perlindungan bagi lahan pertanian, serta kebutuhan ruang hijau yang dibutuhkan dalam satu wilayah dalam menunjang keseimbangan lingkungan. Dari data tersebut juga akan menghasilkan informasi terkait bangunan seperti: volume, lantai, KDB, dan KLB.

Data tersebut dapat dijadikan acuan dalam pengawasan pelanggaran bangunan yang disingkronkan dengan peta zonasi dan dapat mengidentifikasi pelanggaran pajak dan penilaian tanah jika disinkronkan dengan data IMB. Hasil dari Informasi ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi pajak yang harus dibayar berdasarkan volume bangunan terkini.

Teknologi tersebut mampu membantu pengawasan tata ruang dapat jauh lebih komplek lagi, salah satunya yang telah dilakukan oleh Smart City Universitas Indonesia dalam membuat suatu sistem pengawasan tata ruang.

Sumber: PT KHS

Sumber: PT KHS

Implementasi Inovasi Pemanfaatan UAV Dalam Pengawasan Pelanggaran Bangunan

Smart City Universitas Indonesia (SCUI) membuat inovasi pemanfaatan LiDAR yang disebut dengan Smart Land Surveillance System (SLSS). SLSS merupakan sistem perkotaan yang berbasis kumpulan data terstruktur (big data) dan kecerdasan buatan untuk identifikasi ataupun analisis kepatuhan bangunan di suatu wilayah. Dalam proses pengambilan data, SLSS menggunakan dukungan teknologi penginderaan jauh yaitu LiDAR yang diintegrasikan dengan data perizinan eksisting milik beberapa instansi pemerintah pusat dan daerah.

Sistem SLSS mengintegrasikan data dari berbagai platform milik sejumlah instansi pemerintah pusat dan daerah. Beberapa data tersebut adalah informasi dari Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (Sismiop) milik pemerintah daerah, dan data kepemilikan lahan milik Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).

Bisnis Proses SLSS

Sumber: https://www.kompas.com/sains/read/2021/11/06/180000623/smart-land-surveillance-system-manfaatkan-big-data-untuk-deteksi?page=all

Konsep SLSS

Sumber: https://smartcity.ui.ac.id/what-we-do/products/systems/product-detail/smart-land-surveillance-system.html

Keluaran dari sistem ini berupa perangkat lunak yang dapat mendeteksi bangunan, mengukur nilai tanah, mengukur nilai bangunan, dan memodelkan bangunan secara 3D secara otomatis. Outputnya akan disinkronkan dengan Izin Mendirikan Bangunan atau IMB untuk mengidentifikasi pelanggaran pajak dan penilaian tanah.

Contoh Ketidaksesuaian Data Kadastral Pemerintah Dengan Hasil Analisis SLSS

Sumber: https://www.kompas.com/sains/read/2021/11/06/180000623/smart-land-surveillance-system-manfaatkan-big-data-untuk-deteksi?page=all

Implementasi Sistem SLSS

Sistem ini sudah diimplementasikan secara terbatas di Kelurahan Pondok Cina, Depok, untuk perhitungan potensi peningkatan pembayaran pajak. Potensi kenaikan pajak ini dihitung berdasarkan nilai jual objek pajak (NJOP) dikali dengan total luas di setiap jenis kepadatan bangunan. 

Berdasarkan hasil implementasi tersebut, tim SCUI bersama pemerintah daerah dapat menganalisis bahwa Berdasarkan perbandingan informasi dari SLSS dengan data dari Pemkot Depok, pelanggaran bangunan terdeteksi antara 7-80 persen. Pada tahun 2019 pemerintah Kota Depok seharusnya dapat menerima Rp. 77 miliar tambahan dari pendapatan PBB setiap tahun apabila pelanggaran pajak bangunan bisa diidentifikasi dan ditertibkan. 

Pengembangan SLSS sampai sekarang masih terus disempurnakan. Sistem ini kedepannya diharapkan bisa diterapkan di masing–masing pemerintahan kota agar dapat mempermudah pengawasan dan pencegahan masalah bangunan. Pada tahun 2023 Smart City UI telah bekerjasama dengan Pemerintah DKI Jakarta untuk pengembangan SLSS tersebut.

Penutup

Pemanfaatan Teknologi UAV sangat membantu dalam pemetaan detail kawasan. Data yang didapatkan dari LiDAR dan Fotogrametri dapat mempermudah pemerintah dalam melakukan pengawasan tata ruang. Dengan pemanfaatan teknologi tersebut, data yang didapatkan akan lebih akurat sehingga mempermudah untuk menentukan pelanggaran tata ruang. Diharapkan inovasi pemanfaatan teknologi UAV ini akan terus berkembang dan menjawab tantangan lain dalam permasalahan perkotaan dan perdesaan. 

Referensi

  1. Pandu, Pradibta. 2023. Sistem Untuk Identifikasi Pelanggaran Bangunan. Harian Kompas Senin, 30 Januari 2023. Diakses pada 11 Februari 2023.
  2. Feasibility Study Team UI. Smart Land Surveillance System. https://smartcity.ui.ac.id/what-we-do/products/systems/product-detail/smart-land-surveillance-system.html. Diakses pada 11 Februari 2023.
  3. Gamal, Ahmad. 2021. Smart Land Surveillance System Manfaatkan Big Data untuk Deteksi Pelanggaran Pembangunan. https://www.kompas.com/sains/read/2021/11/06/180000623/smart-land-surveillance-system-manfaatkan-big-data-untuk-deteksi?page=all. Diakses pada 11 Februari 2023.
  4. Aprilia, Tike dan Rabby Awalludin. 2022. LiDAR (Light Detection and Ranging). https://www.handalselaras.com/lidar-light-detection-and-ranging/. Diakses pada 11 Februari 2023.
  5. Sukada, I Wayan. Bagaimana Menetapkan NJOP Tanah Secara Wajar?. https://bppk.kemenkeu.go.id/balai-diklat-keuangan-denpasar/berita/bagaimana-menetapkan-njop-tanah-secara-wajar-415497. Diakses pada 11 Februari 2023.

Inspeksi Tower Listrik Menggunakan Sensor Termal

Oleh: Arszandi Pratama, S.T., M.Sc., Tike Aprillia S.T, Akhmad Abrar A.H. S.T., dan Dandy Muhamad Fadilah, S.T.

Apa Penyebab dan Akibat Anomali Suhu Pada Komponen Tower Listrik?

Inspeksi tower listrik perlu dilakukan secara berkala. Hal ini dilakukan untuk menjaga kontinuitas penyaluran energi listrik kepada pelanggan dan meningkatkan keandalan sistem transmisi listrik. Penyebab terjadinya anomali suhu pada komponen tower listrik biasanya adalah kotoran berupa debu dan plak hitam. Hal ini akan mengakibatkan losses berupa energi panas pada beberapa komponen tower listrik sehingga nilai tahanan klem jumper tinggi dan suhunya meningkat tajam.

Suhu yang tinggi pada klem jumper menyebabkan kekuatan mekanis penghantar menurun dan penghantar bertambah panjang sehingga luas penampangnya semakin kecil. Jika kondisi ini dibiarkan akan berakibat suhunya semakin tinggi dan bisa menyebabkan penghantar putus. 

Pengecekan Manual?

Penanganan masalah ini biasanya dilakukan dengan antisipasi/pengecekan menggunakan kamera thermograph dengan metode barehand (sentuh langsung) melalui akses ladder. Personil akan memasuki area bertegangan dengan menggunakan Alat Pelindung Diri.

Best Solution: Menggunakan Drone Yang Dilengkapi Sensor Termal

Kami menggunakan teknologi sensor termal dan drone (UAV)  untuk melakukan inspeksi tower listrik. Sensor termal adalah sensor untuk mendapatkan anomali suhu pada suatu objek survei. Penggunaan sensor termal bermanfaat untuk berbagai kebutuhan, seperti inspeksi tower listrik, fasilitas minyak, pipa gas, dan lainnya. 

Sensor termal yang kami miliki yaitu DJI Zenmuse H20T. Zenmuse H20T adalah kamera multi-sensor dengan rating IP44 yang memiliki kemampuan perbesaran kamera hingga 200 kali. Kemampuan ini dapat membantu kita melihat objek secara jelas. Kamera ini juga didukung dengan Radiometric thermal camera yang dapat merekam anomali suhu pada tower listrik. 

Fitur utama dari Zenmuse H20T yang kami gunakan adalah:

  1. Sensor kamera yang memiliki lensa visual 20-megapixel, 23x Optical Zoom, dengan kemampuan zoom mencapai 200x pada resolusi tinggi. Dilengkapi dengan kualitas kamera yang dapat mencapai resolusi foto 4056×3040 dan resolusi video 3840×2160@30fps, 1920×1080@30fps;
  2. Radiometric thermal camera 640 × 512 px, tingkat suhu yang bisa terdeteksi yaitu dari -40 °C sampai 150 °C dengan mode high gain dan dari -40 °C sampai 550 °C dengan mode low gain;
  3. Dapat mempermudah melacak koordinat objek yang bergerak secara realtime dan akurat dari jarak 3 meter hingga 1200 meter dengan akurasi ± (0.2 m + D×0.15%);
  4. Dengan kombinasi fitur AI yang canggih, DJI Zenmuse H20T memberikan kemudahan penerbangan otomatis untuk inspeksi aset. Selain itu, terdapat fungsi AI yang dikhususkan untuk penggunaan security dan keamanan publik dengan rekognisi target secara otomatis;
  5. Dilengkapi dengan Laser Rangefinder untuk memberikan posisi dan koordinat akurat pada target yang dipantau. Data dapat langsung dilihat secara langsung dan dapat di bagikan ke command center dan team di lapangan;
  6. Lensa wide camera, membantu untuk memperoleh gambar dari berbagai sudut yang lebih jelas, sehingga lensa ini dapat mengambil gambar yang luas dalam satu bidang foto;
  7. Fitur lainnya seperti Night Mode, memudahkan akuisisi data  pada malam hari. One Click Capture, yaitu fitur yang berfungsi menyimpan video atau foto dari 3 kamera (kamera zoom, wide, dan termal) secara bersamaan hanya dengan satu klik/tekan.

Berkat keunggulan fitur tersebut, penggunaan sensor DJI Zenmuse H20T dapat membantu pekerjaan inspeksi tower listrik menjadi lebih mudah dan aman. Output yang didapatkan adalah foto termal yang berguna untuk mengetahui anomali suhu pada tower dan foto RGB yang berguna untuk mengecek kerusakan komponen tower listrik seperti pecah, patah, karatan, putus, dan lainnya.

Hasil data dan informasi tersebut, sangat membantu PLN untuk melakukan pengawasan dan penjadwalan penggantian komponen dalam waktu singkat dan aman. Selain itu, teknologi ini dapat membantu pengecekan di segala kondisi/cuaca (kecuali hujan). Pengambilan data juga bisa dilakukan pada pagi, siang, malam, ataupun setelah hujan. Berikut beberapa hasil akuisisi data yang dilakukan tim KHS:

  1. Pengambilan data saat pagi.
Sumber: KHS, 2022

Foto Termal

Sumber: KHS, 2022

Foto RGB

Sumber: KHS, 2022

Hasil Zoom Kamera

  1. Pengambilan data saat sore.
Sumber: KHS, 2022

Foto Termal

Sumber: KHS, 2022

Foto RGB

Sumber: KHS, 2022

Hasil Zoom Kamera

  1. Pengambilan data setelah hujan.
Sumber: KHS, 2022

Foto Termal

Sumber: KHS, 2022

Foto RGB

Sumber: KHS, 2022

Hasil Zoom Kamera

  1. Pengambilan data saat panas terik.
Sumber: KHS, 2022

Foto Termal

Sumber: KHS, 2022

Foto RGB

Sumber: KHS, 2022

Hasil Zoom Kamera

Berdasarkan contoh data diatas terlihat bahwa dalam berbagai kondisi, sensor kamera H20T dapat memberikan hasil foto yang bagus dan detail. Kemampuan zoom dari alat ini akan mempermudah proses pengambilan data. Selain itu, aktivitas inspeksi menjadi lebih aman karena jarak drone dengan tower tidak perlu terlalu dekat. Sehingga, penggunaan alat ini akan memberikan hasil yang lebih baik dan aman dibandingkan dengan sensor kamera lainnya.

Hasil tersebut juga didukung dengan pilot yang handal dan bersertifikat, sehingga anda tidak perlu khawatir terkait proses dan keamanan saat inspeksi dilakukan. Tunggu apa lagi? Untuk informasi lebih lanjut mengenai Jasa Survei Inspeksi Tower, silakan hubungi kami. Paket informasi lengkap dapat disediakan berdasarkan permintaan.

REFERENSI

  1. Frogs Indonesia. SURVEILLANCE dalam https://frogs.id/surveillance/ Diakses pada 31 Oktober 2022
  2. DJI. Zenmuse H20 Series Unleash The Power Of One dalam https://www.dji.com/id/zenmuse-h20-series Diakses pada 31 Oktober 2022.
  3. Dronenerds. DJI Zenmuse H20T Thermal Camera – Quad-Sensor Solution (Shield Plus) dalam https://www.dronenerds.com/products/cameras-sensors/enterprise-cameras/zenmuse-h20-series/dji-zenmuse-h20t-camera.htm.l Diakses pada 31 Oktober 2022.
  4. https://dorangadget.com/product/dji-zenmuse-h20t/. Diakses pada 8 Februari 2022.
  5. https://www.dji.com/id/zenmuse-h20-series/specs. Diakses pada 8 Februari 2022.
  6. Radar Bandung. 2020. Perbaiki Anomali Hotspot, Tim PDKB UPT Bandung Berjibaku dengan Listrik Tegangan Tinggi. https://www.radarbandung.id/2020/10/21/perbaiki-anomali-hotspot-tim-pdkb-upt-bandung-berjibaku-dengan-listrik-tegangan-tinggi/2/. Diakses pada 8 Februari 2022.

Survei Batimetri

Oleh: Arszandi Pratama, S.T, M.Sc, Rabby Awalludin S.T, Tike Aprillia S.T, Akhmad Abrar A.H. S.T dan Dandy Muhamad Fadilah, S.T.

Perkembangan teknologi survei pada zaman sekarang, tidak hanya berfokus pada pemetaan di wilayah darat saja, namun pemetaan wilayah perairan juga semakin berkembang. Metode pemetaan dasar perairan disebut dengan metode pemeruman sedangkan proses penggambaran dasar perairan tersebut (sejak pengukuran, pengolahan hingga visualisasinya) disebut dengan Survei Batimetri. Artikel ini akan membahas mengenai Survei Batimetri.  Yuk kita simak!

Mengenal Survei Batimetri

Batimetri (dari bahasa Yunani: bathy, berarti “kedalaman”, dan metry, berarti “ukuran”) adalah ilmu yang mempelajari kedalaman di bawah air dan studi tentang tiga dimensi lantai samudra atau danau. Oleh karena itu secara harfiah, kata batimetri dapat diartikan sebagai ukuran kedalaman laut, baik mengenai ukuran tentang elevasi maupun mengenai depresi dasar laut yang merupakan sumber informasi dan gambaran dari dasar laut, serta memberikan banyak petunjuk tentang struktur laut (Nurjaya (1991), dalam Muhajir, 2012). Batimetri (bathos: kedalaman, metry: pengukuran) adalah pengukuran kedalaman laut dan mempetakannya berdasarkan kondisi dan topografi dasar laut. Singkatnya pengertian Batimetri adalah ukuran dari tinggi rendahnya kontur dasar laut (kedalaman) yang diaplikasikan pada peta batimetri. Sedangkan peta batimetri adalah peta yang menyajikan kedalaman air dan konfigurasi topografi bawah laut, umumnya mempunyai sistem koordinat yang bereferensi pada sistem koordinat peta topografi (Thurman (2004) dalam Muhajir, 2012).

Apa itu Pemeruman? Apakah Sama Dengan Survei Batimetri?

Pemeruman adalah proses dan aktivitas yang ditunjukkan untuk memperoleh gambaran atau model bentuk permukaan (topografi) dasar perairan (seabed surface). Proses penggambaran dasar perairan tersebut (sejak pengukuran, pengolahan hingga visualisasinya) disebut sebagai survei batimetri. Gambaran dasar perairan dapat disajikan dalam garis-garis kontur atau model permukaan digital (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).

Garis-garis kontur kedalaman atau model batimetri diperoleh dengan menginterpolasikan titik-titik pengukuran kedalaman bergantung pada area survei yang dikaji. Kerapatan titik-titik pengukuran kedalaman bergantung pada skala model yang hendak dibuat. Titik-titik pengukuran kedalaman berada pada lajur-lajur pengukuran kedalaman yang disebut sebagai lajur perum atau sounding line (Poerbandono dan Djunasjah, 2005). Jarak antar titik-titik fiks perum pada suatu lajur pemeruman setidak-tidaknya sama dengan atau lebih rapat dari interval lajur perum. Saat ini, teknik perekaman data kedalaman sudah dapat dilakukan secara digital. Laju perekaman data telah mencapai kecepatan yang lebih baik dari satu titik per detik (Poerbandono dan Djunasjah, 2005).

Kegiatan survei batimetri tidak hanya memberikan data informasi mengenai kedalaman dasar perairan, namun dapat memberikan informasi kondisi topografi dasar perairan dan lokasi dari objek-objek yang dapat menimbulkan bahaya. Dalam mendapatkan data informasi kedalaman suatu perairan, survei batimetri menggunakan metode pemeruman. Metode pemeruman memanfaatkan gelombang akustik dalam pengukuran kedalaman dasar permukaan air dengan menggunakan echosounder.

Tujuan Survei Batimetri

Survey ini bertujuan untuk mendapatkan data suatu kedalaman ataupun topografi dasar laut, termasuk lokasi dan luasan obyek-obyek di dalamnya. Survey batimetri menggunakan metode akustik biasanya menggunakan alat echosounder. Akuisisi data batimetri menggunakan alat yang dilengkapi dengan sensor Echosounder. Alat ini mampu merekam data mulai dari kedalaman 1 m hingga 500 m. Waktu perekaman dapat diatur sesuai dengan kecepatan, kebutuhan, dan kondisi di lapangan. Peta hasil survei batimetri disajikan dalam bentuk layout peta yang terdiri dari kontur minor dan mayor.

Apa Saja Manfaat Peta Batimetri?

Peta batimetri memiliki banyak manfaat di bidang kelautan diantaranya adalah untuk bahan informasi analisis kebencanaan, mengetahui kontur sungai dan waduk atau topografi laut, studi kualitas air, penentuan jalur pelayaran, perencanaan bangunan pesisir, pendeteksian adanya potensi bencana alam, pertambangan lepas pantai, dan pemasangan maupun pemeliharaan kabel/pipa di bawah laut (Yuniska, 2015). 

Sumber: Department Of Mathematics, University Of Oslo. 1995 dalam https://clasticdetritus.com/2010/04/18/sea-floor-sunday-63-bathymetric-maps-in-vicinity-of-eyjafjallajokull-volcano/. Diakses pada 30 Januri 2023.

Prinsip Kerja Dan Beberapa Peralatan Dalam Survei Batimetri

Sumber: Hamden, Mohammad Hanif & Ami Hassan Md Din. 2018.

Survei batimetri dilakukan dengan menggunakan echosounder yang terpasang pada perahu. Saat perahu bergerak melintasi air, echosounder akan memancarkan sinyal yang kemudian diubah menjadi gelombang suara oleh transduser. Gelombang suara akan memantul dari objek di bawah air dan gema ini kemudian diidentifikasi oleh echosounder. Hasil penjalaran gelombang tersebut dihitung waktu tempuh dan kecepatan gelombang suaranya, sehingga dapat diketahui jarak tempuh gelombang tersebut, yang tak lain adalah kedalaman laut. Sistem survei batimetri mengandalkan sistem GNSS yang akurat untuk menghubungkan setiap posisi horizontal (X, Y) yang diukur ke kedalaman (Z) tertentu. Tahap selanjutnya adalah mengubah data yang terekam oleh GNSS (X, Y) dan echosounder (Z) menjadi model topografi dasar perairan. Beberapa peralatan yang digunakan:

  1. Singlebeam Echo Sounder (SBES)

Singlebeam echo sounder hanya menggunakan pancaran tunggal guna mengukur kedalaman suatu titik. Alat ini menjadi yang paling banyak ditemukan di Indonesia pada saat ini. Resolusi kedalaman alat ini berkisar antara 0.1 m sampai dengan 0.01 m. 

Ilustrasi Survei Batimetri Menggunakan Multibeam Echosounder

Sumber: http://stream1.cmatc.cn/pub/comet/MarineMeteorologyOceans/IntroductiontoHydrography/comet/oceans/hydrography/print.htm. University Corporation for Atmospheric Research. Diakses pada 2 Februari 2023.

  1. Multibeam Echo Sounder (MBES)

Prinsip alat ini sama seperti alat singlebeam echosounder. Perbedaannya terletak pada jumlah perekaman titik kedalaman pada satu sesi pengamatan. Alat ini memiliki sudut sapuan yang lebih besar, sehingga akan mendapatkan cakupan area kedalaman yang lebih luas dibandingkan singlebeam echosounder.

Ilustrasi Survei Batimetri Menggunakan Multibeam Echosounder

Sumber: http://stream1.cmatc.cn/pub/comet/MarineMeteorologyOceans/IntroductiontoHydrography/comet/oceans/hydrography/print.htm. University Corporation for Atmospheric Research. Diakses pada 2 Februari 2023.

Proses dalam kegiatan pembuatan peta batimetri terdiri dari tiga tahapan, yang diawali dengan tahap pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian data. Untuk mendapatkan hasil peta batimetri sesuai syarat kualitas yang baik, kegiatan survei batimetri harus berpedoman pada standar minimum ketelitian dari International Hydrographic Organization (IHO) yang tertuang dalam publikasi khusus SP 44 tahun 2013

Survei Batimetri memberikan informasi mengenai konfigurasi dasar dan penampang melintang sungai, mengetahui tingkat sedimentasi, dan degradasi yang seluruhnya merupakan informasi dasar mengenai wilayah studi bagi perencana. Kegiatan pemeruman dilakukan sesuai dengan SNI (Standar Nasional Indonesia) survei hidrografi menggunakan singlebeam echosounder pada SNI 7646:2010 dan multibeam echosounder melalui SNI 7988:2014.

Akuisisi data batimetri berhubungan dengan data posisi dan kedalaman. Pada proses pengambilan data, sebuah data yang teramati disebut titik fix. Titik fix  mempunyai informasi mengenai posisi (x,y) dan kedalaman (z) yang teramati secara bersamaan. Peta batimetri dibuat dari beberapa titik fix yang sudah teramati. Peta batimetri menggambarkan kondisi topografi dari permukaan dasar laut.

Peralatan Survei

Peralatan survei yang diperlukan pada pengukuran batimetri adalah:

  1. GPS dan perlengkapannya. Alat ini mempunyai fasilitas GPS (Global Positioning System) yang memberikan posisi horizontal pada alat dengan bantuan satelit. Dengan fasilitas ini, kontrol posisi horizontal dari suatu titik tetap di darat tidak lagi diperlukan.
  2. Multibeam Echosounder (MBES)/ Single Beam Echosounder, alat ini mempunyai kemampuan untuk mengukur kedalaman perairan dengan menggunakan gelombang suara yang dipantulkan ke dasar perairan.
  3. Laptop, diperlukan untuk menyimpan data yang di download dari alat GPS Echo Sounder.
  4. Perahu, digunakan untuk membawa surveyor dan alat-alat pengukuran menyusuri jalur-jalur survei pemeruman yang telah ditentukan. Perahu tersebut harus memiliki beberapa kriteria, antara lain:
  • Perahu harus cukup luas dan nyaman untuk para surveyor dalam melakukan kegiatan pengukuran, downloading data dari alat ke komputer, dan lebih baik tertutup serta bebas dari getaran mesin.
  • Perahu harus stabil dan mudah bermanuver pada kecepatan rendah.
  • Kapasitas bahan bakar harus sesuai dengan panjang jalur pemeruman.
  1. Papan duga digunakan pada kegiatan pengamatan fluktuasi muka air di laut.
  2. Peralatan keselamatan yang diperlukan selama kegiatan survei dilakukan antara lain life jacket.

Penutup

Teknologi survei batimetri menjadikan pemetaan wilayah perairan menjadi lebih mudah. Dengan teknologi ini, dasar perairan akan terpetakan dan kedalaman perairan akan diketahui. Hal ini akan bermanfaat dalam beberapa industri seperti pembangunan dermaga kapal dan pemeliharaannya, pertambangan di lepas pantai, navigasi kapal, dll. PT. Kreasi Handal Selaras siap menghadirkan SDM yang handal, untuk menunjang pekerjaan survei batimetri tersebut.

Referensi

  1. Anugrah, Feby. 2021. Studi Batimetri Dan Morfologi Dasar Laut Di Perairan Pantai Galesong Kabupaten Takalar, Provinsi Sulawesi Selatan. Skripsi: Departemen Teknik Geologi. Universitas Hasanuddin. Makassar.
  2. Kusumawati, Elok Dyah. Gentur Handoyo, Hariadi. 2015. Pemetaan Batimetri Untuk Mendukung Alur Pelayaran Di Perairan Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Jurnal Oseanografi. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, Halaman 706 – 712. Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jose.
  3. Hidayat, Ahmad, Bambang Sudarsono, Bandi Sasmito. 2014. Survei Bathimetri Untuk Pengecekan Kedalaman Perairan Wilayah Pelabuhan Kendal. Jurnal Geodesi Undip.
  4. 2020. Survey Batimetri. https://totalgeosurvey.com/pemetaan-dan-survey-batimetri-bawah-air-menggunakan-gps-garmin-fishfinder-seri. Diakses pada 30 Januari 2023.
  5. Erlian, Dwi Ramadhan. 2019. Fungsi Pelaksanaan Survei Batimetri Pada Alur Masuk Dan Daerah Labuh Serta Kolam Putar Di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjung Pinang. https://repository.unimar-amni.ac.id/2807/2/14.%20BAB%202%20ACC.pdf. Universitas Maritim AMNI Semarang.
  6. Survey Batimetri. https://antesena-geosurvey.com/survey-batimetri/. Diakses pada 2 Februari 2023.
  7. Ohio-Kentucky-Indiana Water Science Center. 2016. https://www.usgs.gov/centers/ohio-kentucky-indiana-water-science-center/science/bathymetric-surveys#overview. Diakses pada 2 Februari 2023.
  8. Hinds, Eric. What Are Bathymetric Surveys and Why Are They Important? https://www.landform-surveys.co.uk/news/what-are-bathymetric-surveys/ . Diakses pada 2 Februari 2023.
  9. http://stream1.cmatc.cn/pub/comet/MarineMeteorologyOceans/IntroductiontoHydrography/comet/oceans/hydrography/print.htm. University Corporation for Atmospheric Research. Diakses pada 2 Februari 2023.
  10. Hamden, Mohammad Hanif & Ami Hassan Md Din. 2018. A review of advancement of hydrographic surveying towards ellipsoidal referenced surveying technique. IOP Conf. Series: Earth and Enviromental Science 169. Doi:10.1088/1755-1315/169/1/012019.
  11. Survey Batimetri. https://hesa.co.id/survey-investigation/survey-batimetri/. Diakses pada 2 Februari 2023.
  12. 2016. Menentukan Kedalaman Titik Di Laut. http://dedykur.blogspot.com/2016/06/menentukan-kedalaman-titik-di-laut.html. Diakses pada 2 Februari 2023.