Meninjau Hasil Uji Sebaran Droplet dengan Water Sensitive Paper (WSP) pada Drone Spraying untuk Meningkatkan Akurasi dan Efisiensi Penyemprotan.

oleh Dede Supriatna, S.T.

Teknologi pertanian terus berkembang demi meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian global. Salah satu inovasi yang menjanjikan adalah penggunaan drone pada industri pertanian dan perkebunan. Dalam tulisan ini, uji droplet drone spraying dengan water-sensitive paper menjadi highlight. Memberikan gambaran metode yang lebih canggih dan akurat dalam aplikasi penyemprotan.

Pertama-tama, mari kita telaah konsep dasar dari teknologi ini. Drone spraying, sebagai alternatif dari penyemprotan manual atau menggunakan pesawat terbang, menawarkan sejumlah keuntungan yang signifikan. Drones dapat mencapai daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh kendaraan lain, meminimalkan risiko kerusakan tanaman karena tekanan udara yang rendah, dan memungkinkan aplikasi yang lebih akurat dan tepat sasaran. Namun, ketepatan aplikasi pestisida adalah aspek kritis yang menjadi perhatian para ahli pertanian dan ilmuwan. Disinilah water-sensitive paper menjadi perangkat vital dalam mengukur dan mengevaluasi distribusi droplet yang dihasilkan oleh drone.

Uji sebaran droplet dengan Water Sensitive Paper (WSP) pada Drone Spraying (Sumber: Arsip KHS).

A. Mengenal apa itu Water Sensitive Paper (WSP).

Water Sensitive Paper (WSP) adalah sejenis kertas yang digunakan untuk mengukur dan memvisualisasikan distribusi tetesan cairan pada permukaannya. Kertas ini memiliki sifat khusus yang membuatnya bereaksi terhadap kelembaban, dengan mengubah warna saat terkena cairan.

Water Sensitive Paper (WSP) sebelum dan sesudah penyemprotan (Sumber: Arsip KHS)

Water Sensitive Paper bekerja berdasarkan sifat-sifat kimiawi yang merespons terhadap kelembaban. Ketika tetesan cairan menyentuh permukaan WSP, senyawa yang terkandung di dalamnya bereaksi dengan air dan mengubah warna kertas, menciptakan pola yang mencerminkan distribusi penyemprotan. WSP digunakan dalam berbagai aplikasi termasuk pertanian, kehutanan, dan industri lainnya yang melibatkan aplikasi penyemprotan cairan. Ini membantu user untuk memastikan bahwa cairan disemprotkan secara merata di area yang dituju, meningkatkan efisiensi dan efektivitas aplikasi. Water Sensitive Paper mempunyai keunggulan berupa kemudahan penggunaan, sensitivitas terhadap cairan, dan visualisasi yang jelas tentang distribusi tetesan atau droplet. Dengan demikian, Water Sensitive Paper merupakan alat yang penting dalam mengoptimalkan aplikasi penyemprotan cairan, membantu pengguna untuk mencapai hasil yang lebih efisien dan akurat dalam berbagai aplikasi industri.

B. Penggunaan Water Sensitive Paper (WSP) pada Drone Spraying.

Water sensitive paper pada aplikasi penyemprotan dengan drone spraying berguna untuk melihat bagaimana bentuk dan ukuran droplet. Droplet size pada drone spraying mengacu pada ukuran tetesan-tetesan cairan semprotan yang dihasilkan oleh nozzle selama proses penyemprotan. Droplet mirip dengan tetesan air yang kita lihat ketika hujan turun. Ketika drone melakukan penyemprotan, cairan yang ada di dalam tangkinya ditekan keluar melalui alat khusus yang disebut nozzle. Saat cairan ini keluar dari nozzle, ia pecah menjadi banyak tetesan kecil yang membentuk awan atau semburan cairan di udara. Tetesan-tetesan ini kemudian jatuh ke tanaman atau tanah di bawahnya.

Ilustrasi Peletakan WSP oleh Tim Drone Pada Titik Pengujian (Sumber: Arsip KHS).

Pada pengujian yang dilakukan oleh Tim Drone Spraying Kreasi Handal Selaras, WSP diletakan langsung pada beberapa titik sample. Pada use case tanaman padi, kami menempelkan WSP langsung pada bagian daun tanaman padi dengan menggunakan double tape. Pada use case sawit, kami meletakan langsung pada pelepah pokok sample yang ingin dilakukan pengamatan. Pada gambar ilustrasi diatas, WSP diletakan pada titik berwarna merah. Tidak ada keharusan atau aturan pasti dimana sebuah WSP diletakan. Peletakan WSP dapat disesuaikan dengan kebutuhan user dan tim drone dengan beberapa kali pengulangan penyemprotan pada beberapa titik sample WSP. Bahkan jika anda ingin menguji droplet drone anda di lapangan tanpa tanaman, ini juga bisa dilakukan. Anda hanya perlu memastikan WSP berada pada area yang terbuka sehingga ketika drone terbang dan menyemprot diatas WSP, droplet akan terkena permukaan WSP tersebut.

Beberapa parameter penting yang mempengaruhi keberhasilan uji droplet drone spraying antara lain adalah Tinggi Terbang, Kecepatan Terbang, Kecepatan Angin, Jenis Nozzle, Lebar Semprot, Volume Tangki per Ha, dan Spray Rate Drone Spraying. Parameter tersebut menjadi sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan saling mempengaruhi.

Baca tulisan kami sebelumnya: Rahasia Sukses Pengendalian Hama Ulat Api pada Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera Barat menggunakan Teknologi Drone Spraying.

C. Cara Menghitung Droplet pada Water Sensitive Paper (WSP)

Menghitung droplet pada Water Sensitive Paper (WSP) melibatkan beberapa langkah, di antaranya:

  1. Persiapan WSP : Pertama-tama, persiapkan WSP dengan memastikan bahwa kertas tersebut telah dipotong menjadi ukuran yang sesuai dan telah dikalibrasi sesuai dengan kebutuhan pengujian Anda. Pastikan WSP dalam keadaan kering sebelum digunakan. Letakan WSP pada titik area yang ingin anda uji.
  2. Penyemprotan : Lakukan misi penerbangan dan penyemprotan cairan yang ingin anda ukur menggunakan drone di atas WSP. Pastikan untuk mencatat semua parameter yang relevan, flight altitude, flight speed, spray rate, dll.
  3. Pengamatan & Pengukuran : Setelah penyemprotan selesai, amati WSP dengan teliti. Identifikasi dan catat pola dan distribusi tetesan yang terbentuk pada permukaan WSP. Penting untuk memperhatikan ukuran, jumlah, dan pola penyebaran tetesan. Gunakan alat pengukur yang tepat, seperti mikroskop atau perangkat lunak pengolahan gambar digital, untuk mengukur ukuran dan jumlah tetesan. Anda juga dapat menggunakan grid atau skala yang tercetak pada WSP sebagai referensi untuk pengukuran.
  4. Analisis : Setelah melakukan pengukuran, analisis data yang Anda kumpulkan. Hitung rata-rata ukuran tetesan, distribusi ukuran tetesan, dan jumlah total tetesan yang terbentuk pada WSP. Hal ini dapat memberikan wawasan tentang efisiensi dan akurasi penyemprotan cairan tersebut.
  5. Interpretasi : Terakhir, interpretasikan hasil pengukuran dan analisis Anda. Evaluasilah apakah penyemprotan tersebut memenuhi standar yang diinginkan dalam hal distribusi tetesan dan ukuran tetesan. Anda juga dapat mengevaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas penyemprotan, seperti ketinggian, kecepatan, dan tekanan.

D. Rekomendasi Droplet Density

Rekomendasi Droplet Density (Sumber data: Syngenta)

Gambar diatas merupakan rekomendasi droplet density yang diambil dari syngenta. Jumlah droplet untuk jenis penyemprotan Insektisida, Herbisida dan Pre-Emergent adalah 20 – 30 per cm persegi. Jumlah droplet untuk jenis penyemprotan Herbisida Kontak dan Post-Emergent adalah 30 – 40 per cm persegi. Sedangkan untuk jenis penyemprotan fungisida, jumlah droplet per cm persegi adalah 50 – 70. Agar aplikasi drone spraying dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan hasil yang ingin di dapatkan, penting untuk melakukan kalibrasi dengan WSP ini.

E. Kesimpulan

Dapat disimpukan, uji droplet drone spraying dengan water-sensitive paper adalah langkah yang tepat dan menjanjikan dalam revolusi pertanian modern. Dengan menyediakan alat yang lebih akurat dan responsif, teknologi ini dapat membantu petani meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Namun, diperlukan kerjasama lintas disiplin ilmu dan investasi yang berkelanjutan untuk mewujudkan potensi penuh dari inovasi ini.

Tertarik mengetahui informasi lebih banyak mengenai pemanfaatan teknologi drone spraying? Anda dapat terhubung dengan kami melalui email di [email protected] dan WhatsApp Marketing KHS di +62-851-9514-5758.

Referensi: Brosur WSP Syngenta

Rahasia Sukses Pengendalian Hama Ulat Api pada Perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera Barat menggunakan Teknologi Drone Spraying.

oleh Dede Supriatna, S.T. dan Ismatul Kamilah

Padang, Sumatera Barat – Kreasi Handal Selaras (KHS) berhasil menyelesaikan pekerjaan pengendalian hama ulat api pada salah satu perkebunan kelapa sawit di Sumatera Barat menggunakan teknologi drone spraying DJI agriculture. Pekerjaan ini dilaksanakan pada minggu pertama April 2024.

Foto Bersama Tim Drone Spraying Kreasi Handal Selaras dengan Petani Lokal di Perkebunan Kelapa Sawit, Sumatera Barat. (Doc: KHS)

A. Mengenal apa itu Ulat Api pada Perkebunan Kelapa Sawit.

1. Ulat Api

Ulat api merupakan jenis ulat yang termasuk dalam ordo Lepidoptera dan famili Limacodidae. Dinamakan ulat api karena tubuhnya diselimuti oleh duri-duri yang mengandung racun. Apabila berpaparan langsung dengan kulit dapat menyebabkan sensasi terbakar, sakit, dan iritasi. Oleh sebab itu, ulat ini diberi nama ulat api.

Salah satu jenis ulat api yang ditemukan pada lokasi pekerjaan oleh tim drone Kreasi Handal Selaras. (Doc: KHS)

Mereka seringkali menyerang daun kelapa sawit, meskipun berukuran kecil, mampu menghabiskan hingga 90% daun, meninggalkan hanya bagian sekitar tulang daun. Ini mengakibatkan penurunan kemampuan fotosintesis kelapa sawit. Bahkan bisa menyebabkan kematian tanaman.

2. Jenis – Jenis Ulat Api

a. Setothosea Asigna

Jenis ulat setothosea asigna merupakan salah satu jenis hama utama pada perkebunan kelapa sawit. Ulat ini memiliki tubuh berwarna hijau dengan corak coklat dan bintik-bintik putih, serta seluruh tubuhnya ditutupi oleh bulu-bulu. Setothosea asigna memakan bagian luar daun sehingga membuat tubuhnya terlihat transparan.

b. Setora Nitens

Setora nitens merupakan salah satu jenis ulat api yang sangat mirip dengan setothosea asigna. Ciri khas dari ulat ini adalah memiliki sepasang duri di bagian punggungnya. Setora nitens mulai menyerang bagian spiral tengah atas pada pelepah kelapa sawit. Jika serangan berat, hanya menyisakan daun bagian tengah atau lidinya saja.

c. Darna Trima

Jenis ulat darna trima memiliki tubuh berwarna coklat pada bagian punggung dan kuning pada bagian samping. Untuk ulat yang baru menetas, tubuhnya berwarna abu-abu dengan bintik orange di bagian punggungnya.

d. Parasa Lepida

Parasa Lepida merupakan jenis ulat api yang memiliki tubuh berwarna hijau pucat, putih, dan kuning terang. Lalu pada bagian punggung terdapat garis-garis berwarna hijau.

B. Siklus hidup Ulat Api.

Siklus hidup ulat api pada umumnya ber siklus telur-larva-pupa/kepompong-serangga dewasa. Namun, setiap jenis ulat api memiliki rentan siklus yang berbeda-beda.

a. Setothosea Asigna

  • Setothosea Asigna adalah salah satu jenis ulat api yang memiliki rentang masa hidup antara 106 hingga 138 hari.
  • Telur berwarna kuning kehijauan, oval, dan transparan. Biasanya diletakkan dalam tumpukan 3-4 baris sejajar dengan permukaan daun bagian bawah, terutama pada pelepah daun ke 6-17. Setiap tumpukan telur dapat berisi sekitar 44 butir. Telur menetas dalam waktu 4-8 hari.
  • Ulat yang menetas berwarna hijau kekuningan dengan bercak-bercak khas di punggungnya. Pada punggungnya juga terdapat duri-duri. Tahap ulat ini berlangsung selama sekitar 49-50 hari sebelum berubah menjadi kepompong.
  • Ulat berkepompong pada permukaan tanah yang gembur di sekitar piringan atau pangkal batang kelapa sawit. Kepompong diselubungi oleh kokon yang terbuat dari air liur ulat, berbentuk bulat telur, dan berwarna coklat gelap. Tahap kepompong berlangsung sekitar ± 39,7 hari.
  • Serangga dewasa memiliki sayap depan berwarna coklat tua dengan garis transparan dan bintik-bintik gelap, sedangkan sayap belakangnya berwarna coklat muda.

b. Setora Nitens

  • Setora Nitens merupakan salah satu jenis ulat yang memiliki siklus hidup lebih singkat dibandingkan Setothosea Asigna yaitu 42 hari.
  • Telur serupa dengan telur Setothosea Asigna , tetapi diletakkan tanpa tumpang tindih. Telur menetas dalam waktu 4-7 hari.
  • Ulat awalnya berwarna hijau kekuningan, kemudian menjadi hijau, dan akhirnya merah ketika memasuki masa kepompong. Ia memiliki satu garis memanjang berwarna biru keunguan di tengah punggung. Tahap larva berlangsung selama 50 hari.
  • Tahap kepompong, berlangsung sekitar 17 – 27 hari.
  • Serangga dewasa ulat ini memiliki lebar rentangan sayap sekitar 35 mm, dengan sayap depan berwarna coklat dan garis-garis gelap.

c. Darna Trima

  • Siklus hidup ulat api Darna Trima memiliki waktu sekitar 60 hari
  • Telur kecil dan bulat, berukuran sekitar 1,4 mm. Berwarna kuning kehijauan dan diletakkan satu persatu di bagian bawah daun kelapa sawit. Telur-telur ini menetas dalam waktu 3-4 hari
  • Ulat yang baru menetas memiliki warna putih kekuningan yang kemudian yang kemudian berubah menjadi coklat muda dengan bercak jingga. Pada tahap perkembangan selanjutnya, bagian punggung ulat menjadi coklat tua. Tahap ulat ini berlangsung selama 26-33 hari 
  • Menjelang kepompong, ulat membentuk kokon dari air liurnya dan berkepompong di dalam kokon tersebut. Kokon ini berwarna coklat tua dan berbentuk oval. Tahap kepompong berlangsung sekitar 10-14 hari.
  • Ngengat dewasa memiliki warna coklat gelap dengan lebar rentangan sayap sekitar 18 mm. Sayap depannya berwarna coklat gelap dengan sebuah bintik kuning dan empat garis hitam, sementara sayap belakangnya berwarna abu-abu tua. 

d. Parasa Lepida

  • Parasa Lepida memiliki siklus hidup selama 60-76 hari.
  • Telur berbentuk bulat dengan diameter sekitar 0,4 hingga 0,6 mm saat baru diletakkan. Memiliki warna pucat kekuningan. Tahap telur berlangsung selama 2 sampai 4 hari.
  •  Larva instar pertama dari Parasa Lepida memiliki warna kekuningan dengan nuansa kehijauan, serta memiliki bulu-bulu runcing kecil di tubuhnya. Tahap larva berlangsung selama 30-40 hari.
  • Pupa Parasa Lepida sangat keras dan berwarna hitam kecoklatan, dengan stadia pupa berlangsung selama 28-31 hari. 
  • Ngengat dewasa, baik jantan maupun betina, memiliki warna hijau dan kecoklatan, serta mata majemuk hitam. Betina biasanya bertelur sekitar 10-50 butir di bagian bawah daun dewasa.

C. Efek kerusakan akibat serangan Ulat Api.

1. Ciri khusus tanaman yang terserang ulat api.

Ulat api menyerang daun kelapa sawit dengan cara mengunyahnya dari bagian bawah hingga menyisakan serat-serat. Akibatnya, dapat membuat kelapa sawit kehilangan daunnya mencapai 50%-90% dalam kondisi parah. Mereka cenderung memilih daun yang sudah tua, namun jika tidak tersedia, mereka akan memakan daun muda juga. Jika tidak ditangani dengan cepat dan efektif, serangan ini dapat mengakibatkan kematian tanaman.

2. Efek kerusakan yang timbul akibat ulat api.

Serangan ulat api pada tanaman kelapa sawit, dapat berpengaruh pada kualitas, penurunan produksi, dan produktivitas. Akibat serangan ulat api, fotosintesis tanaman kelapa sawit menjadi terganggu yang mengakibatkan proses pembentukan bunga dan buah tidak sempurna. Selain itu, dapat terjadi defoliasi yang mengakibatkan produksi tandan buah segar (TBS) menurun. Serangan ulat api dapat menurunkan 12% hingga 30% produksi tanaman kelapa sawit baik pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) maupun Tanaman Menghasilkan (TM).

D. Pengendalian Ulat Api dengan Teknologi Drone Spraying.

Kreasi Handal Selaras (KHS)  menggunakan drone DJI Agras T20P untuk kegiatan penanggulangan ulat api ini. Dengan kemampuan mengangkat muatan liquid sebanyak 20 liter, drone ini mampu menyelesaikan pekerjaan spraying seluas 0.5 Hektar dalam satu kali penerbanga hanya dengan waktu 6 menit saja.

Adapun spesifikasi detail DJI Agras T20P adalah sebagai berikut:

Spesifikasi Drone DJI Agras T20P. (Doc: KHS)

1. Teknis dan langkah kerja pengendalian ulat api dengan teknologi drone spraying.

Ilustrasi langkah kerja pengendalian ulat api dengan menggunakan drone spraying. (Doc: KHS)

Berikut ini adalah langkah kerja pengendalian ulat api dengan menggunakan drone spraying yang dilakukan oleh Kreasi Handal Selaras:

  • Sensus Pra-Aplikasi Drone Spraying: Sensus pra-aplikasi drone spraying merupakan tahap penting dalam tahapan pengendalian hama ulat api pada perkebunan sawit. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui tingkat serangan ulat api pada area yang membutuhkan penanganan. Sensus dilakukan oleh petani atau perusahaan perkebunan dengan melakukan pengamatan secara langsung dan melakukan perhitungan jumlah ulat pada setiap pelepah pokok sample.
  • Aplikasi Drone Spraying: Tahapan pengoperasian drone spraying oleh tim operasional pada area kerja. Tahapan ini berisi seluruh kegiatan operasional mulai dari pencampuran air dan chemical, persiapan drone, pemetaan area kerja, persiapan misi / jalur terbang, pengisian larutan chemical kedalam tangki drone, drone terbang / operasional, drone landing, pergantian batterai drone, dan pengecasan battery. Hal ini dilakukan secara berulang hingga area kerja diselesaikan seluruhnya.
  • Sensus Pasca Aplikasi Drone Spraying (3 / 7 Hari): Tahapan dimana sensus dilakukan 3 hari atau 7 hari oleh petani atau perusahaan perkebunan setelah pekerjaan dengan drone spraying dilakukan. Sensus dilakukn dengan menghitung jumlah ulat pada setiap pelepah pokok sample.
  • Sensus Pasca Aplikasi Drone Spraying (14 Hari): Tahapan dimana sensus dilakukan 14 hari oleh petani atau perusahaan perkebunan setelah pekerjaan dengan drone spraying dilakukan. Sensus dilakukn dengan menghitung jumlah ulat pada setiap pelepah pokok sample.
  • Sensus Pasca Aplikasi Drone Spraying (21 Hari): Tahapan dimana sensus dilakukan 21 hari oleh petani atau perusahaan perkebunan setelah pekerjaan dengan drone spraying dilakukan. Sensus dilakukn dengan menghitung jumlah ulat pada setiap pelepah pokok sample. Durasi waktu sensus (3/7, 14, dan 21 hari) dapat disesuaikan dengan kebutuhan user.

E. Keuntungan dan tantangan penggunaan Drone Spraying pada Perkebunan Kelapa Sawit.

1. Keuntungan menggunakan drone spraying.

Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dari penggunaan drone spraying pada perkebunan kelapa sawit, yaitu:

  • Efektif dan Efisien: Drone spraying menghemat waktu dan tenaga dibandingkan dengan metode penyemprotan konvensional. Drone dapat dengan cepat menjangkau area yang luas dan sulit dijangkau secara manual. Ini memungkinkan untuk memberikan respons cepat terhadap serangan ulat api yang terjadi pada suatu area / blok / kebun, membantu mengendalikan penyebarannya lebih efisien.
  • Penyemprotan Secara Tepat Sasaran: Drone dilengkapi dengan teknologi GPS dan beberapa sensor canggih, memungkinkan penyemprotan yang lebih presisi. Dengan bantuan GPS, drone dapat diprogram untuk mengikuti jalur yang telah ditentukan dengan presisi tinggi, sehingga area yang ingin disemprotkan dapat ditargetkan secara akurat. Selain itu, sensor yang terpasang pada drone memungkinkan identifikasi dan pemetaan area yang membutuhkan perlakuan pestisida atau zat lainnya. Dengan kemampuan ini, drone dapat menghindari menyemprotkan bahan kimia secara berlebihan ke area yang tidak perlu, mengurangi risiko pencemaran lingkungan dan kerugian ekonomi akibat pemborosan bahan kimia. Penyemprotan secara tepat sasaran juga membantu meningkatkan efisiensi penggunaan bahan kimia, sehingga memberikan manfaat ekonomis dan lingkungan yang signifikan dalam praktik pertanian modern.
  • 10x Hemat Air dan Chemical: Penggunaan drone spraying dapat menghemat 10x air dan chemical untuk penanggulangan ulat api karena hanya membutuhkan sekitar 30 – 40 liter air saja untuk setiap hektar. Drone dapat menjadi lebih hemat air dibanding metode konvensional karena kemampuannya untuk melakukan penyemprotan yang lebih presisi dan terukur. Dengan teknologi dan sensor yang mempuni, drone dapat menyemprotkan air tepat pada tanaman yang membutuhkan, menghindari pemborosan air di area yang tidak diperlukan. Selain itu, pengaturan volume air yang tepat dan waktu penyemprotan yang optimal juga membantu mengurangi kelebihan penyiraman dan penguapan. Penggunaan drone juga memungkinkan akses yang lebih baik ke area yang sulit dijangkau, memungkinkan penggunaan air yang lebih efisien secara keseluruhan dalam kegiatan pertanian.
  • Lebih Sedikit Tenaga Kerja: Salah satu manfaat utama dari penggunaan drone spraying adalah pengurangan tenaga kerja yang diperlukan dalam proses penyemprotan pestisida atau pupuk. Dengan menggunakan drone, aktivitas penyemprotan dapat dilakukan secara otomatis dan mandiri dengan hanya mengandalkan satu atau beberapa operator untuk mengawasi dan mengendalikan drone tersebut. Hal ini mengurangi keterlibatan tenaga kerja manusia secara langsung di lapangan, yang sebaliknya memerlukan banyak pekerja untuk melakukan penyemprotan manual menggunakan peralatan konvensional seperti semprotan tangan atau alat semprot backpack. Selain itu, drone dapat menyemprotkan area yang sulit dijangkau dengan lebih efisien tanpa memerlukan banyak tenaga manusia untuk mengatasi medan yang sulit atau terjal. Dengan demikian, penggunaan drone spraying dapat membantu mengurangi biaya tenaga kerja, meningkatkan efisiensi operasional, dan mengurangi risiko kelelahan atau paparan bahan kimia berbahaya bagi pekerja pertanian.
  • Kemudahan Mob-Demob: Drone dapat dengan mudah dipindahkan dari satu lokasi ke lokasi lainnya tanpa memerlukan infrastruktur yang rumit seperti kendaraan besar atau peralatan khusus. Ini memungkinkan petani atau operator untuk merespons dengan cepat terhadap kebutuhan penyemprotan di berbagai area pertanian. Selain itu, drone umumnya memiliki ukuran yang kompak dan mudah dipindahkan, sehingga memudahkan dalam proses pengiriman dan pengambilan kembali (demobilisasi) setelah selesai digunakan. Hal ini berbeda dengan metode konvensional yang mungkin memerlukan waktu dan sumber daya lebih besar untuk memindahkan atau mengangkut peralatan penyemprotan. Dengan demikian, mobilitas dan demobilisasi yang mudah dari drone spraying memberikan keuntungan tambahan dalam efisiensi dan fleksibilitas operasional di lapangan.

2. Tantangan penggunaan drone spraying.

Penggunaan drone spraying pada perkebunan kelapa sawit memiliki beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk memaksimalkan efektivitasnya. Tantangan tersebut antara lain:

  • Skala Luas dan Topografi Kompleks: Salah satu tantangan utama dalam penggunaan drone spraying pada perkebunan kelapa sawit adalah menghadapi skala luas dan topografi yang kompleks dari area pertanian tersebut. Perkebunan kelapa sawit sering kali mencakup ribuan hektar lahan dengan topografi yang bervariasi, termasuk lereng curam, sungai, dan area yang sulit dijangkau. Drone harus mampu menavigasi melalui area yang luas dan bervariasi ini dengan presisi tinggi untuk melakukan penyemprotan secara efektif. Selain itu, pengumpulan data topografi yang akurat sebelumnya juga penting untuk perencanaan rute penerbangan drone yang optimal, sehingga area yang ingin disemprotkan dapat ditargetkan dengan tepat.
  • Kanopi Pohon Yang Rapat, Ulat Api Berada Di Bawah Pelepah: Kanopi pohon sawit yang rapat menjadikan tantangan tersendiri untuk pengoperasian drone spraying, operator drone harus mampu melakukan penyemprotan secara merata dan memastikan setiap pelepah pada pohon tersebut tersemprot dengan baik. Selain itu, posisi ulat api biasanya berada pada daun bagian bawah sedangkan drone menyemprot dari atas. Ini juga menjadi tantangan penggunaan drone spraying. Petani harus bisa memilik chemical dengan dosis yang tepat sehingga sekalipun ulat api berada pada bawah pelepah, akan dapat mati karena chemical dapat disemprotkan secara merata.
  • Kondisi Cuaca dan Angin yang Tidak Terduga: Sawit sering kali ditanam di daerah tropis yang rentan terhadap hujan, angin kencang, atau kabut tebal yang dapat mengganggu operasi drone. Cuaca buruk seperti hujan dapat mengurangi visibilitas dan menyebabkan drone tidak bisa terbang atau melakukan penyemprotan. Angin kencang juga dapat mempengaruhi stabilitas dan navigasi drone, meningkatkan risiko kegagalan atau kecelakaan selama operasi.

F. Kesimpulan

Secara keseluruhan, teknologi drone spraying dapat memberikan manfaat yang signifikan. Seperti meningkatkan efektifitas & efisiensi, penyemprotan secara tepat sasaran, 10x hemat air dan chemical, lebih sedikit tenaga kerja, dan kemudahan Mob-Demob. Drone spraying memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan efisien terhadap infestasi ulat api karena kemampuannya untuk menjangkau area yang luas dengan presisi yang tinggi. Selain itu, penggunaan drone juga membantu perkebunan mengatasi permasalahan akan sulitnya tenaga kerja manusia. Kemampuan drone untuk beradaptasi dengan topografi yang kompleks dan kondisi cuaca yang berubah-ubah memungkinkan penanganan ulat api secara efektif di lingkungan pertanian yang beragam. Dengan demikian, drone spraying merupakan solusi modern yang dapat meningkatkan efisiensi, keamanan, dan keberlanjutan dalam pengendalian ulat api di perkebunan kelapa sawit.

Tertarik mengetahui informasi lebih banyak mengenai pemanfaatan teknologi drone spraying? Anda dapat terhubung dengan kami melalui email di [email protected] dan WhatsApp Marketing KHS di +62-851-9514-5758.


Referesi:

Cepat & Efisien: Kreasi Handal Selaras (KHS) ajak petani di Karawang lakukan penyemprotan Padi dengan Drone.

oleh Dede Supriatna, S.T.

Karawang – Tim Drone Kreasi Handal Selaras (KHS) mengenalkan teknologi drone spraying pada petani di Batujaya, Kawarang, Jawa Barat pada 29 November 2023. Bersama dengan rekanan dari salah satu perusahaan chemical untuk tanaman pertanian seperti tanaman padi, penggunaan drone spraying ini ditujukan untuk percontohan penanggulangan Insektisida dan Fungisida pengganggu tanaman padi dalam 1 kali kegiatan penyemprotan menggunakan drone. 

Foto Bersama Petani Padi di Karawang dengan Tim Drone Kreasi Handal Selaras.

Kreasi Handal Selaras menggunakan Drone DJI Agras T20P dengan kemampuan membawa cairan sebanyak 20L dengan waktu terbang sekitar 7 menit dengan area yang dapat disemprot seluas 0,6 sd 0,7 Ha. Pengoperasian Drone Spraying ini relatif mudah dan membutuhkan lebih sedikit manpower yaitu sebanyak 2 – 3 orang saja dengan posisi sebagai Drone Pilot, Visual Observer/Engineer, dan Support. Tim Drone dapat menyelesaikan pekerjaan ini sebanyak 9 Ha hanya dengan waktu 2 jam saja.

Petani sedang menyaksikan proses isi ulang cairan chemical pada tangki drone sebelum drone diterbangkan kembali.

Sementara itu, salah satu petani mengatakan kepada kami bahwa: “Kami biasanya mengerjakan pekerjaan spraying secara manual butuh sekitar 10 orang untuk 10 hektar, jadi tiap orang satu harinya bisa sekitar 1 Ha. Tapi ini enggak pasti, kadang bisa kurang, kadang juga lebih.

Oksy Rahim selaku Head of Drone Technology Implementation KHS menuturkan: “Penggunaan Teknologi Drone Spraying pada tanaman padi ini sangat cocok digunakan untuk mengatasi permasalahan seperti serangan hama secara masif sehingga penanggulangannya harus dilaksanakan secara cepat dan merata. Lalu drone juga dapat membantu kegiatan penyemprotan dengan sedikit sumber daya manusia yang digunakan, jadi tenaga kerja manusia lainnya bisa dialokasikan untuk kegiatan lain seperti tanam maupun panen, sedangkan perawatannya dilakukan dengan drone.”

Drone Spraying sedang terbang secara autonomous untuk menyemprot chemical pada tanaman padi.

Oksy juga menambahkan, “Teknologi drone yang dipakai ini sudah fully autonomous dan dapat dipastikan penyemprotannya merata. Kita bisa lihat dari riwayat terbang dari drone itu sendiri, area mana yang disemprot, berapa banyak cairan yg dihabiskan, sampai berapa lama waktu terbangnya.”

Teknologi Drone Drone mampu menghemat 30x konsentrasi chemical yang digunakan. Aplikasi penyemprotan ini sangat cocok digunakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian yang ada di Daerah Karawang maupun daerah lainnya.

Apakah anda memiliki kebutuhan dan pertanyaan mengenai aplikasi drone spraying pada tanaman padi? Sampaikan request dan pertanyaan anda melalui [email protected] atau WhatsApp Marketing KHS di (+62) 851-9514-5758.

Mewujudkan Ketahanan Pangan Di Indonesia

Oleh: Arszandi Pratama, S.T., M.Sc., Akhmad Abrar A.H. S.T., Tike Aprillia S.T, Warid Zul Ilmi, S.P.W.K., dan Dandy Muhamad Fadilah, S.T.

Pangan merupakan kebutuhan dasar utama bagi manusia yang harus dipenuhi setiap saat. Hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana disebut dalam pasal 27 UUD 1945 dan Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Sebagai kebutuhan dasar dan salah satu hak asasi manusia, pangan mempunyai arti dan peran yang sangat penting bagi kehidupan suatu bangsa. Ketersediaan pangan yang kurang dibandingkan kebutuhannya dapat menciptakan ketidakstabilan ekonomi. Berbagai gejolak sosial dan politik dapat juga terjadi jika ketahanan pangan terganggu. Kondisi pangan yang kritis bahkan dapat membahayakan stabilitas ekonomi dan stabilitas Nasional.

Ketahanan pangan mendorong peningkatan ekonomi masyarakat dijelaskan lebih lanjut pada Peraturan Presiden No. 18 Tahun 2020 yang di dalamnya ditekankan bahwa ketahanan pangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari konteks transformasi struktur perekonomian. Salah satunya terjabarkan pada dokumen kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Anggaran ketahanan pangan pada tahun 2022 yang mencapai Rp76,9 triliun, anggaran tersebut diarahkan untuk (1) peningkatan keterjangkauan dan kecukupan pangan yang beragam, berkualitas, bergizi, dan aman; (2) peningkatan produktivitas, pendapatan petani dan nelayan melalui penguatan kapasitas petani dan nelayan, penguatan akses terhadap input produksi, penyediaan sarana prasarana pertanian dan perikanan, serta mendorong mekanisasi dan penggunaan teknologi; (3) diversifikasi pangan dan kualitas gizi; (4) perbaikan iklim usaha dan daya saing; serta (5) penguatan sistem pangan berkelanjutan (pengembangan food estate).

Indonesia berkomitmen untuk terus mensukseskan program ketahanan pangan tersebut. Istilah food estate juga mulai dikembangkan di Indonesia. Food Estate adalah desain pertanian modern nasional di masa depan yang merupakan konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan dan peternakan di suatu kawasan yang luas yang terdiri dari beberapa klaster bidang pertanian dan peternakan. Artinya di suatu kawasan yang sangat luas akan dibangun sentra pertanian secara berkesinambungan dan modern karena proses pertanian dan pengolahan hasilnya akan dikelola dengan pola digital farming dan meminimalisir metode pertanian konvensional menggunakan bajak dan cangkul.

Lalu apa harapan dari program ketahanan pangan nasional?

  1. Mengangkat derajat dan ekonomi masyarakat;
  2. Lahirnya petani-petani milenial yang terbuka dan cakap akan bentuk mekanisasi modern;
  3. Penyerapan tenaga kerja secara masif di pedesaan;
  4. Mimpi besar Indonesia di bidang pertanian, peternakan, perkebunan bisa terwujud; dan
  5. Menjadi negara besar pengekspor produk pertanian.

Untuk mensukseskan semua program tersebut dibutuhkan peran antar aktor, baik itu petani sendiri, pemerintah, swasta dll. Saat ini, PT KHS juga telah memberikan kontribusinya terhadap penguatan sektor pangan di Indonesia, yaitu dalam bentuk mendorong mekanisasi modern dan penggunaan teknologi di sektor pertanian dan perkebunan untuk skala yang besar melalui penerapan teknologi drone.

Teknologi drone sendiri bukan lah hal yang baru di dunia pertanian, namun di Indonesia dalam penerapannya masih belum dikatakan masif dan baik, lalu apa saja sebenarnya bentuk/ peran teknologi drone ini, di bawah naungan PT KHS dalam mendorong mekanisasi pertaniaan:

Sebelumnya masuk pada definisi mekanisasi pertanian, mekanisasi sendiri merupakan sebuah proses penggantian dan penggunaan berbagai macam mesin serta beragam sarana teknik yang ditujukan menjadi alat pengganti bagi tenaga manusia maupun hewan. dan Mekanisasi pertanian diartikan sebagai berbagai hal seperti sitem, sarana teknik atau alat yang dapat membantu keberlangsungan proses bisnis pada sektor pertanian itu sendiri, mulai dari persiapan laha, persiapan penanaman, penanaman, perawatan, pasca panen, dan kembali pada persiapan penanaman kembali. semua proses tersebut dapat diperbantukan dengan  peran drone. Berikut adalah mekanisasi pertanian yang dapat diperbantukan oleh drone :

  1. Drone berperan untuk memetakan kondisi lahan

Drone dapat memberikan pemetaan lapangan yang akurat dan informasi ketinggian yang memungkinkan petani dapat menemukan masalah di lapangan. Informasi mengenai elevasi lahan berguna untuk menentukan pola drainase dan titik basah/kering yang memungkinkan petani mengetahui teknik penyiraman lebih efisien. Beberapa penyedia layanan drone untuk pertanian juga menawarkan drone dengan inovasi pemantauan tingkat nitrogen di tanah dengan menggunakan sensor. Hal ini dapat meningkatkan pengaplikasian pupuk yang tepat, meminimalisir tempat tumbuh yang buruk dan meningkatkan kesehatan tanah untuk tahun-tahun berikutnya.

  1. Drone juga digunakan untuk memantau kondisi kesehatan tanaman

Drone yang digunakan untuk memantau kesehatan tanaman dilengkapi dengan peralatan pencitraan khusus yang menggunakan informasi warna terperinci untuk menunjukkan kesehatan tanaman, alat tersebut adalah Normalized Difference Vegetation Index (NDVI). Hal ini memudahkan petani untuk memantau tanaman mereka yang sedang dalam proses pertumbuhan, sehingga mereka dapat menangani permasalahan yang ada dengan cepat untuk menyelamatkan tanaman.

Pencitraan satelit memang menawarkan akurasi meter, tetapi pencitraan drone lebih mampu menghasilkan lokasi gambar yang akurat hingga milimeter. Hal ini berarti bahwa setelah adanya proses penanaman, area dengan celah tegakan dapat terlihat dan dapat ditanam kembali sesuai kebutuhan, serta permasalahan penyakit atau hama dapat terdeteksi dengan cepat dapat dengan segera untuk ditindalanjuti oleh petani.

  1. Drone untuk penanaman dan pembibitan

Penyemaian bibit dengan drone otomatis sebagian besar digunakan di industri kehutanan saat ini. Dengan adanya inovasi ini memungkinkan para petani untuk menyemai bibit di daerah yang sangat sulit dijangkau tanpa membahayakan pekerja. Drone juga lebih efesien dalam menanam dan menyemai bibit. Dengan tim yang terdiri dari dua operator dan sepuluh drone mampu menanam 400.000 bibit perhari.

  1. Drone untuk penyiraman tanaman

Drone spraying mulai banyak diaplikasikan karena memiliki banyak keunggulan diantaranya adalah memaksimalkan efisiensi dan menghemat biaya bahan kimia serta menjamin dosis yang disebarkan karena terukur melalui monitoring secara real time yang tercatat secara digital dan ter komputasi dengan baik sehingga memungkinkan untuk dilakukan evaluasi berkala terhadap tanaman dengan data secara akurat, dengan begitu hasil produk tanaman akan berkualitas tinggi.

  1. Drone untuk perencanaan irigasi

Dalam memetakan lahan, drone juga dapat digunakan untuk mengetahui informasi elevasi lahan sehingga memungkinkan petani untuk dapat merencanakan pola irigasi yang sesuai dengan kontur lahan. Hal ini sangat bermanfaat karena petani dapat merencanakan pola irigasi di lahan luas dengan waktu yang cepat dan biaya pemetaan yang rendah.

Referensi:

  1. Kementerian ATR/BPN. Buletin Penataan Ruang. Mei-Juni 2020.
  2. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. 2021. Siaran Pers HM.4.6/437/SET.M.EKON.3/11/2021. https://www.ekon.go.id/publikasi/detail/3496/strategi-menjaga-ketahanan-pangan-nasional-dalam-agenda-pembangunan-nasional. Diakses pada 08 Mei 2023. 
  3. 2022. Teknologi Drone Dukung Sektor Pertanian Indonesia Go Internasional !!!. https://faperta.umsu.ac.id/2022/01/04/teknologi-drone-dukung-sektor-pertanian-indonesia-go-internasional/. Diakses pada 08 Mei 2023.
  4. Radi-tep. 2019. Mekanisasi. https://alsintan.tp.ugm.ac.id/mekanisasi/. Diakses pada 08 Mei 2023.

Drone Spraying Untuk Keberlanjutan Alam Indonesia

Oleh: Arszandi Pratama, S.T., M.Sc., Tike Aprillia S.T, Akhmad Abrar A.H. S.T., dan Dandy Muhamad Fadilah, S.T.

Pertanian, perkebunan, dan Kehutanan menjadi sektor penting dalam peningkatan ekonomi dan keseimbangan alam. Sesuai dengan amanat Rencana Jangka Menengah Indonesia Tahun 2020-2024 bahwa untuk memacu pembangunan ekonomi tumbuh lebih tinggi, inklusif, dan berdaya saing diperlukan pengelolaan sumber daya ekonomi yang mencakup pemenuhan pangan dan pertanian serta kehutanan.

Dalam mewujudkan rencana pembangunan tersebut, dibutuhkan pengelolaan pertanian, perkebunan, dan kehutanan yang berkelanjutan. Tidak hanya mengandalkan lahan yang luas, namun diperlukan efektivitas dalam proses pengelolaannya. 

Pemanfaatan teknologi drone menjadi salah satu solusi untuk keberlanjutan sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Drone adalah teknologi terbarukan dalam penyemprotan tanaman. Saat ini, pemanfaatan drone di dunia pertanian, perkebunan, dan kehutanan menjadi sangat diminati. Selain mempermudah penyemprotan pupuk, pestisida, dan herbisida drone dapat meminimalkan biaya perawatan tanaman (cost reduction). 

Keunggulan Drone Spraying

Terdapat banyak keunggulan yang diperoleh apabila memilih menggunakan drone untuk proses penyemprotan tanaman. Berikut ini kami rangkum beberapa keunggulan dari penggunaan drone spraying:

  1. Penyemprotan akan lebih merata dengan menggunakan drone yang sangat praktis. Penyemprotan akan lebih merata mengikuti kontur lahan dan dapat mengoptimalkan penggunaan pupuk, pestisida, dan herbisida karena drone secara otomatis dapat terbang secara konstan di atas tanaman serta mencatat posisi awal dan akhir secara real-time.
  2. Cost Reduction, drone spraying dapat memangkas biaya perawatan tanaman karena hanya dengan menggunakan drone penyemprotan pupuk, pestisida, dan herbisida dapat dilakukan lebih efektif dan efisien.
  3. Efisiensi waktu, dapat menyelesaikan penyemprotan tanaman di lahan 20 Ha/Ha.
  4. Mencegah ancaman kesehatan untuk para petani, seperti yang sudah kita ketahui bahwa pestisida dan herbisida menggunakan bahan kimia yang tidak baik untuk para petani. 

Jasa Drone Spraying Kreasi Handal Selaras

Kreasi Handal Selaras adalah salah satu penggagas jasa drone spraying di Indonesia. Penyemprotan menggunakan drone berguna untuk industri pertanian, perkebunan dan kehutanan. Penyemprotan tanaman dengan drone menggantikan cara penyemprotan manual agar petani terhindar dari serangan racun dan panas akibat penyemprotan pestisida cair, pupuk dan herbisida. Drone spraying memiliki kendali jarak jauh yang ergonomis dan inovatif, yang dapat dengan mudah dikendalikan di area manapun dan tidak akan merusak tanaman.

Kreasi Handal Selaras saat ini memiliki 2 jenis drone yaitu drone DJI T16 dan DJI T30, yang beroperasi di wilayah Riau, Jambi dan Palembang. Setiap drone mampu menguasai 350 hektar lahan per bulan. Dengan capaian tersebut, bisnis drone spraying saat ini cukup menjanjikan. Berikut 2 jenis drone dan keunggulannya:

  1. DJI Agras T16

Agras T16 memiliki perangkat keras yang kuat, mesin AI, dan perencanaan operasi 3D, T16 dapat melakukan penyemprotan tanaman lebih mudah dan praktis. Keunggulan penggunaan Drone DJI Agras T16:

  • Mengoptimalkan penggunaan secara lebih merata dan akurat, dengan teknologi Spray nozzles.
  • Terdapat 3 mode penerbangan yaitu: mode penerbangan Smart mode, Manual Plus Mode dan Manual mode.
  • Kapasitas tangki 16 l dengan berat 10 kg
  • Terbang dengan ketinggian konstan di atas tanaman, sehingga jumlah cairan diterapkan optimal.
  • Intelligent Memory, DJI Agras T16 secara otomatis mencatat posisi sebelumnya dan saat ini.

(VIDEO)

  1. DJI Agras T30
  • Memiliki real time kinematic untuk akurasi penerbangannya
  • Dapat mencakup 18 hektar area semprot per jamnya
  • Kapasitas tangki lebih besar 30 l dengan berat 16 kg sangat cocok untuk pertanian, perkebunan, dan hutan tanaman industri yang luas.
  • Dapat secara otomatis mengikuti kontur lahan yang beragam
  • Jangkauan lebar semprotan sangat luas sekitar 7 – 9 meter sehingga penyemprotan akan lebih cepat.

Penutup

Teknologi Drone Spraying menjadi solusi terbaik untuk membantu pengelolaan tanaman lebih efektif dan efisien. Dengan drone spraying, pekerjaan tidak hanya lebih cepat dan hemat namun menjamin kesehatan petani dari bahan kimia. 

KHS dapat memenuhi kebutuhan spraying perusahaan anda. Dengan dibekali pilot berpengalaman dan teknologi drone terbaru, membuat pekerjaan lebih cepat dengan hasil yang maksimal. Silahkan hubungi kontak person kami untuk bertanya terkait jasa drone spraying kami. Yuk bermitra dengan kami!!!

Pemanfaatan Drone Pada Perkebunan Tebu

Oleh: Arszandi Pratama, S.T., M.Sc., Akhmad Abrar A.H. S.T., Nurul Megawati Putri, S.T., Dandy Muhamad Fadilah, S.T., dan Warid Zul Ilmi, S.P.W.K.

Pemanfaatan Drone Spraying Pada Perkebunan Tebu

Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar 13,28 persen pada tahun 2021 atau merupakan urutan kedua setelah sektor Industri Pengolahan. Pada waktu krisis ekonomi, sektor pertanian merupakan sektor yang cukup kuat menghadapi goncangan ekonomi dan dapat diandalkan dalam pemulihan perekonomian nasional.

Tebu (Saccharum officinarum Linn) adalah tanaman untuk bahan baku gula. Tebu hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan dan umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen, mencapai kurang lebih 1 tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatera sebagai bahan pokok dalam pembuatan gula. Maka budidaya tebu sangat penting untuk keberlanjutan industri gula di Indonesia. 

Industri gula saat ini menghadapi tantangan berat. Dengan tantangan membanjirnya gula impor, produksi gula di Indonesia cenderung mengalami fluktuasi dari tahun 2017 sampai dengan 2021. Pada tahun 2018 produksi gula sebesar 2,17 juta ton menurun sebesar 19,25 ribu ton (0,88 persen) dibandingkan tahun 2017. Sedangkan pada tahun 2019 produksi gula sebesar 2,23 juta ton meningkat sebesar 55,32 ribu ton (2,55 persen) dibandingkan tahun 2018. Sementara itu, pada tahun 2020 produksi gula sebesar 2,12 juta ton menurun sebesar 103,65 ribu ton (4,65 persen) dibandingkan tahun 2019. Kemudian pada tahun 2021 kembali mengalami peningkatan sebesar 224,93 ribu ton (10,60 persen) menjadi 2,35 juta ton.

Produksi Gula Indonesia (Juta Ton), 2017-2021

Sumber: BPS, 2021.

Tahapan utama dalam operasional perkebunan tebu adalah persiapan lahan. Dalam proses persiapan lahan, diperlukan beberapa data seperti: sumber irigasi (sungai, pompa dalam, pompa permukaan, tadah hujan), drainase kebun, topografi lahan dan kemiringan lahan, kesuburan tanah (tanah gembur, liat, berbatu, berpasir), tipologi tanah (jenis tanah, pengairan dan drainase). prasarana jalan (angkutan bibit, pupuk dan tebangan), dan verifikasi kepemilikan lahan.

Teknologi mekanisasi yang dapat membantu kegiatan persiapan lahan menjadi lebih cepat dan akurat adalah Drone. Dengan drone, survei dapat dilakukan lebih cepat di lahan yang luas. Pemanfaatan foto udara dalam persiapan lahan dapat dimanfaatkan untuk menganalisis kondisi kebun eksisting. Selanjutnya dengan dibantu oleh sensor LiDAR, petani juga bisa mendapatkan data ketinggian lahan/ kemiringan lahan yang berfungsi untuk perencanaan zonasi kebun, atau perencanaan irigasi dan drainase. 

Dalam proses peningkatan produksi tebu, selain memahami operasional perkebunan tebu juga penting sekali untuk mengerti bagaimana fase pertumbuhan tebu. Fase Pertumbuhan tanaman tebu adalah (Kuntuhartono,1999):

  1. Fase Perkecambahan, Fase ini dimulai dengan membengkaknya mata tunas lalu pecah dan tumbuh kuncup. Kuncup memanjang bersamaan munculnya akar stek, kemudian kuncup menjadi daun dan mekar (Fase ini berlangsung selama 4-6 minggu).

Gambar Fase Perkecambahan Tebu

Sumber: Ahmad Dhiaul Khuluq dan Ruly Hamida, 2014
  1. Fase Pertunasan, proses keluarnya tunas anakan baru yang keluar dari pangkal tebu muda (tunas primer). Proses ini berlangsung mulai dari tebu berumur 5 minggu sampai 3-4 bulan.
  2. Fase Perpanjangan Batang (Grand Growth Period), dimulai dari umur 3,5 bulan sampai 9 bulan.
  3. Fase Kemasakan berkaitan dengan pengisian batang tebu dengan sukrosa yang dimulai dengan pertumbuhan vegetatifnya berkurang. Pada fase ini sukrosa di dalam batang tebu mulai terbentuk hingga titik optimal dan berangsur-angsur menurun. Fase ini disebut juga fase penimbunan rendemen tebu. Apabila kondisi lingkungan berkecukupan unsur nitrogen dan air, akan menyebabkan proses pemasakan terhambat karena tebu terus tumbuh hingga sehingga perolehan rendemen berkurang (Hadisaputro dan Pudjiarso, 2000).
  4. Fase Pasca Panen, Terjadi saat tanaman tebu berumur 12 bulan. Pada tahapan ini tanaman mulai menunjukkan gejala kematian dan daun mengering. Kadar gula tertinggi terdapat pada batang bagian bawah (Kuntohartono, 1999).

Peningkatan produksi tebu dapat dilakukan dengan penataan varietas dan pembibitan, pengaturan waktu tanam dan pengaturan kebutuhan air, serta pemupukan dan pengendalian OPT. Sehingga akan mendapatkan tebu dengan produktivitas dan rendemen yang optimal. Penurunan produktivitas tebu dapat terjadi karena berbagai faktor, mulai dari kondisi tanah, ketersediaan air, varietas, hingga pemupukan tanaman (Ari Pradipta Utama dkk, 2017).

Peningkatan Produktivitas Rendemen Tebu (sukrosa) dapat dilakukan dengan Proses Revener. Proses Revener ini dilakukan pada saat 1 bulan sebelum panen. Tujuan dari proses revener adalah untuk menahan pertumbuhan tanaman tebu agar kandungan sukrosa tidak berkurang. Seperti penjelasan diatas, bahwa pada fase kemasakan jika tanaman tebu terus tumbuh dan tidak ditahan proses pertumbuhannya, maka pertolehan rendemen tebu (glukosa) akan berkurang. Untuk itu diperlukannya proses revener menggunakan herbisida yang mengandung glifosat dengan cara disemprotkan.

Drone spraying menjadi teknologi alternatif dalam membantu produktivitas perkebunan tebu. Dalam proses penyemprotan herbisida untuk menahan pertumbuhan tebu tersebut, penggunaan drone spraying sangat memudahkan petani karena proses penyemprotan akan jauh lebih cepat dan merata. PT. KHS dapat menyediakan jasa drone spraying demi mendukung peningkatan produktivitas perkebunan tebu di Indonesia. Dengan bentuk mekanisasi tersebut, diharapkan dapat terus mendorong produktivitas serta mengurangi pengeluaran petani. Silahkan menghubungi kami untuk dapat berkonsultasi lebih lanjut. Yuk bermitra dengan KHS!!!

Referensi

  • Gatot Pramuhadi. 2012. Aplikasi Herbisida di Kebun Tebu Lahan Kering. Institut Pertanian Bogor. Artikel PANGAN, Vol. 21 No.3 September 2012: 221-231.
  • Ir. Sitty Ahra. 2019. Teknik Budidaya Tebu. http://cybex.pertanian.go.id/artikel/93892/upaya-peningkatan-produktivitas-dan-rendemen-tebu/. Diakses pada 18 Maret 2023.
  • Ahmad Dhiaul Khuluq dan Ruly Hamida. 2014. Peningkatan Produktivitas Dan Rendemen Tebu Melalui Rekayasa Fisiologis Pertunasan. Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat. Malang. Perspektif Vol. 13 No.1 Hlm. 13-24.
  • Ari Pradibta Utama, Setyono Yudo Tyasmoro, Titin Sumarni. 2017. Pengaruh Glisofat Sebagai Zat Pemacu Kemasakan Pada Tanaman Tebu (Saccharum Officinarum L). Malang. Jurnal Produksi Tanaman Vol. 5 No. 10. ISSN: 2527-8452.
  • Bambang Gunawan, Sri Purwati, Pujiati. 2014.  Kajian Macam Varietas dan Konsentrasi ZPT Organik Terhadap Perkecambahan Stek Tanaman Tebu (Saccharum Officinarum L). Universitas Merdeka Surabaya. Jurnal Fakultas Pertanian UNIGA Nomor 1 Volume XIV.