Pos

Pemetaan Sungai Dan DAS Menggunakan Drone

Oleh: Arszandi Pratama, S.T., M.Sc., Akhmad Abrar A.H. S.T., Tike Aprillia S.T, Dandy Muhamad Fadilah, S.T., dan Warid Zul Ilmi, S.P.W.K.

Sumber: https://forthriverstrust.org/

Saat ini pemanfaatan drone banyak digunakan untuk pemetaan skala besar, karena drone dapat menghasilkan data yang jauh lebih detail dan akurat dengan cara yang lebih cepat dan mudah serta dapat dioperasikan dengan aman dan menjangkau wilayah yang luas. Namun, terdapat beberapa hal penting yang menjadi kelemahan drone, salah satunya adalah cuaca. Drone pada umumnya tidak dapat dioperasikan pada saat hujan. Untuk itu, perlu perencanaan yang baik sebelum menerbangkan drone.

Pemanfaatan teknologi dalam bidang pemetaan fotogrametri semakin berkembang tiap tahunnya. Hal tersebut ditunjukan dengan pemanfaatan UAV dalam melakukan pemetaan untuk wilayah dengan skala kecil atau besar. Pemanfaatan teknologi fotogrametri tersebut diharapkan dapat membantu dalam melakukan akuisisi data dengan mudah, waktu yang lebih cepat, personil lebih sedikit, dan hasil yang lebih akurat.   

Teknik pemetaan dengan teknologi fotogrametri kini juga didukung dengan adanya teknik representasi penggambaran (plotting) dari berbagai software, yang pada awalnya hanya bisa mempresentasikan berupa peta tampilan dua dimensi (2D), saat ini berkembang sampai visualisasi tiga dimensi (3D) (Subakti, 2017 dalam Martinus dan Tantrie).

Pemetaan sungai atau Daerah Aliran Sungai (DAS) menjadi salah satu yang dapat dikerjakan oleh drone dan datanya dapat digunakan untuk berbagai hal penting. Tidak hanya untuk mengetahui kondisi di sekitar kawasan sungai dan DAS, namun juga diperlukan untuk mengetahui informasi penting seperti tutupan lahan sekitar. Melalui kegiatan pemetaan sungai, data-data sungai dan DAS dapat diketahui dan dapat dijadikan sebagai langkah awal untuk menentukan kebijakan. Kebijakan tersebut merupakan bentuk perwujudan dari perencanaan, pengelolaan, serta pengawasan kawasan sungai dan DAS.

Sumber: https://forthriverstrust.org/

DAS secara umum didefinisikan sebagai suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai, yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alamiah yang batas daratnya merupakan pemisah topografis dan batas lautnya sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan. Sedangkan sungai adalah alur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa jaringan pengaliran air beserta air di dalamnya, mulai dari hulu sampai muara, dengan dibatasi kanan dan kiri oleh garis sempadan.

Apa saja output dari pemetaan Sungai & DAS?

  1. Pemetaan DAS

Peta Daerah Aliran Sungai adalah peta yang berisi informasi objek-objek pada sekitar aliran sungai tersebut. Objek tersebut bisa berupa tutupan lahan, pemukiman, dan lain sebagainya. DAS merupakan penyangga dari sungai tersebut. Pemetaan DAS ini bisa dilakukan dengan berbagai cara baik darat maupun udara. Pemetaan dengan darat, lebih lama serta berbiaya relatif lebih mahal. Sedangkan pemetaan dengan foto udara menggunakan pesawat nirawak akan mempercepat proses pengadaan peta DAS. Hasil peta foto dari pesawat nirawak akan diolah menjadi DSM, DTM, maupun tutupan lahan. Hasil tersebut dapat digunakan untuk perencanaan terhadap DAS maupun sungai itu sendiri (baik naturalisasi maupun normalisasi). Perubahan peruntukan kawasan sekitar sungai tentu saja dapat memperkecil lebar sungai. Bahkan jika ada bangunan di bibir sungai, maka aliran sungai akan  menjadi terhambat. Dengan menggunakan peta tersebut, maka rencana untuk memperlebar maupun memperbaiki aliran sungai dapat dilakukan dengan lebih baik. 

  1. Pemetaan Morfologi Sungai

Pemetaan geomorfologi sungai secara detail membutuhkan akurasi data topografi tinggi untuk mengetahui geometri teras-teras sungai. Menurut Annisa dan Gayatri (2019) Metode yang dapat dilakukan adalah dengan prosedur Structure From Motion menggunakan data fotogrametri. Metode tersebut dapat menghasilkan data DEM beresolusi kurang lebih 0,5 m yang dapat digunakan sebagai peta dasar untuk pemetaan geomorfologi detail sungai. 

  1. Peta kedalaman sungai

Pemetaan kedalaman sungai sangat dibutuhkan untuk informasi awal dalam pengerukan sungai. Hasil analisis tersebut digunakan untuk mendapatkan daya tampung sesuai dengan yang diharapkan. Hal yang lebih dulu dilakukan saat pemetaan kedalaman sungai adalah dengan pemetaan menggunakan drone di sepanjang sungai yang akan dilakukan pengukuran kedalamannya. Hal cukup penting karena berkaitan dengan skala atau volume sungai itu sendiri, sehingga bisa diperkirakan berdasarkan aturan teknis yang sudah ada. Dengan menggunakan alat single Beam Echosounder (SBES). SBES merupakan salah satu alat akustik yang dapat dibawa oleh moda transportasi sungai biasa maupun dengan ASV (Autonomous Survey Vessel)/Kapal survei nirawak. dilengkapi dengan positioning RTK (Real Time Kinematik), maka koordinat serta kedalaman dapat diplot menjadi peta kedalaman sungai. Namun output ini diperoleh dengan survei batimetri, bukan menggunakan survei fotogrametri.

Selain 3 output tersebut, masih banyak output yang didapatkan dari kegiataan pemetaan sungai & DAS. Semua output tersebut menjadi salah satu parameter/analisis lanjutan untuk perencanaan, pengelolaan, dan pengendalian sungai dan DAS.

Dari penjabaran beberapa output pemetaan sungai dan DAS di atas, secara umum dapat kita simpulkan bahwa fotogrametri dalam pemetaan sungai dan DAS memiliki peran yang penting. Fotogrametri pada pemetaan DAS, perlu diolah lebih lanjut untuk menghasilkan data DSM, DTM, dan tutupan lahan. Pada geomorfologi sungai, diperlukan data fotogrametri untuk menghasilkan data DEM yang berguna untuk peta dasar. Dengan teknologi drone pemetaan sungai dan DAS yang sulit dikarekan wilayah yang luas dan berbahaya dapat dikerjakan dengan aman dan cepat.

Sumber:

  1. https://data.pu.go.id/dataset/wilayah-sungai. Diakses pada 14 April 2023.
  2. 2020. Peta untuk Penataan Sungai dan DAS. https://zonaspasial.com/artikel-geospasial/peta-untuk-penataan-sungai-dan-das/. Diakses pada 14 April 2023.
  3. Martinus Edwin Tjahjadi, Tantrie Djauhari. Modeling 3 Dimensi Sungai Dari Foto Udara. Institut Teknologi Nasional Malang.
  4. Annisa Nurina Adani. Gayatri Indah Marliyana. Pemanfaatan Metode Fotogrametri Dalam Pemetaan Geomorfologi Detail Untuk Memahami Detail Dinamika Teras Sungai Progo, Di Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, D.I.Yogyakarta. Prosiding Seminar Nasional Kebumian. Universitas Gajah Mada.